Friday, October 19, 2018

Pendayagunaan Media Dalam Kegiatan Penyuluhan Pertanian Partisipatif (1)


Oleh : Hamdan Malik

Pendahuluan

Pembelajaran kreatif dalam kegiatan penyuluhan pertanian dimaknai sebagai usaha seorang penyuluh pertanian sebagai fasilitator mampu menyajikan proses belajar yang dapat menumbuhkan minat belajar peserta penyuluhan, menciptakan suasana kelompok yang kondusif dan menyenangkan untuk belajar. Oleh karena itu, sudah saatnya penyuluh pertanian meninggalkan model pembelajaran yang menggunakan cara-cara instan dalam melakukan penyuluhan. Model pembelajaran dengan sistem drill, yang mengharapkan hasil bagus dengan cepat tanpa mengindahkan prosedur pembelajaran yang semestinya, sesungguhnya bersifat intimidatif. Bagaimana tidak mengintimidasi, bila peserta penyuluhan senantiasa dihadapkan pada keharusan meraih minimal ’kriteria tertentu’ yang menjadi standar kompetensi yang dibutuhkan? Akibatnya, peserta penyuluhan mengikuti pembelajaran dibawah bayang-bayang “ancaman dan ketakutan tidak mencapai batas kriteria minimal’ jika tidak dapat menyerap atau menguasai materi pelatihan (lebih tepatnya: menghafal), yang akan dibuktikan dengan unjuk kerja kompetensi.
Apabila dengan “pembelajaran intimidatif” tersebut peserta penyuluhan merasa terpaksa mengikuti kegiatan penyuluhan, sudah saatnya penyuluh pertanian memikirkan dan menerapkan model pembelajaran lain yang lebih memahami kondisi peserta penyuluhan pertanian; salah satu alternatifnya adalah model pembelajaran dalam penyuluhan pertanian yang bersifat partisipatif. Model pembelajaran ini menuntut seorang penyuluh pertanian dapat memilih dan mendayagunakan media penyuluhan pertaniannya yang sesuai, antara lain karena peserta penyuluhan dilibatkan dan diikutsertakan dalam menentukan dan mencari bahan/materi dari berbagai sumber yang akan dipelajari.
Sudah bukan masanya lagi dalam setiap proses pembelajaran, apalagi dalam kegiatan penyuluhan pertanian menerapkan pendekatan yang “intimidatif” seperti itu, bukankah lebih efektif jika dilakukan dengan pendekatan partisipatif....?
Ada ungkapan dari Peter Kline yang mengatakan bahwa “Learning is Most Effecive When It’s Fun”, pembelajaran itu akan terlaksana paling efektif manakala dilakukan dengan senang hati. Ungkapan ini mempunyai makna yang sangat dalam, yakni bahwa tujuan pembelajaran itu akan tercapai jika peserta penyuluhan mengikuti dan melakukan proses pembelajarannya dengan senang hati, dan tentu saja dengan motivasi yang tinggi.

Media Penyuluhan Pertanian

Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima. Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan. Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa proses penyuluhan pertanian merupakan proses komunikasi.
Proses penyuluhan pertanian mengandung lima komponen komunikasi, yaitu : (1) penyuluh pertanian sebagai komunikator; (2) bahan atau materi penyuluhan; (3) media dan/ata alat bantu penyuluhan pertanian; (4) metode dan teknik penyuluhan yang diterapkan; (5) pelaku utama dan pelaku usaha sebagai peserta penyuluhan sebagai komunikan, dan (6) tujuan penyuluhan yang hendak dicapai.
Jadi, media penyuluhan pertanian adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan atau materi penyuluhan), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan pelaku utama dan pelaku usaha sebagai peserta penyuluhan untuk mencapai tujuan mempelajari materi tersebut. Proses pembelajaran dalam penyuluhan pertanian merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sistem, maka media penyuluhan pertanian menempati posisi yang penting sebagai salah satu komponen sistem penyuluhan pertanian, dan merupakan komponen integral dari sistem penyuluhan pertanian; karena dalam proses penyuluhan, media penyuluhan pertanian memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari penyuluh pertanian menuju ke pelaku utama dan pelaku usaha sebagai sasaran penyuluhan.
Kelebihan kemampuan media pembelajaran menurut Gerlach dan Ely adalah dalam hal (1) kemampuan fiksatif; (2) kemampuan manipulatif; dan (3) kemampuan distributif. Sedangkan hambatan-hambatan komunikasi dalam proses pembelajaran antara lain (1) verbalisme, artrinya peserta dapat menyebutkan kata tetapi tidak mengetahui artinya; (2) salah tafsir, artinya dengan istilah atau kata yang sama diartikan berbeda oleh peserta; (3) perhatian tidak berpusat; dan (4) tidak terjadinya pemahaman.
Oleh karenanya, pengembangan media penyuluhan pertanian hendaknya diupayakan untuk memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh media tersebut dan berusaha menghindari hambatan-hambatan yang mungkin muncul dalam proses penyuluhan pertanian.

Landasan Penggunaan Media Penyuluhan Pertanian

Ada beberapa tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran, khususnya media penyuluhan pertanian; antara lain landasan filosofis, psikologis, teknologis, dan empiris.
Landasan filosofis. Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kegiatan penyuluhan, akan berakibat proses pembelajaran dalam penyuluhan itu yang kurang manusiawi. Benarkah pendapat tersebut? Bukankah dengan adanya berbagai media penyuluhan pertanian justru peserta dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media mana yang lebih sesuai dengan karakteristik pribadinya? Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi.
Landasan psikologis. Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran dalam penyuluhan pertanian akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar sasaran penyuluhan. Untuk maksud tersebut, perlu diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik perhatian peserta serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, dan materi penyuluhan pertanian yang akan diajarkan dapat disesuaikan dengan pengalaman peserta penuluhan itu sendiri, sebab kajian secara psikologis menyatakan bahwa peserta akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan hubungan konkrit – abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media, ada beberapa pendapat.
Pertama, Jerome Bruner; mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film (iconic representation of experiment) kemudian ke belajar dengan simbul, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation).
Kedua, Charles F. Haban; mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
Ketiga, Edgar Dale; membuat jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari peserta yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju peserta sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke peserta sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir peserta sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan simbol. Jenjang konkrit-abstrak ini ditunjukkan dengan bagan dalam bentuk kerucut pengalaman (cone of experiment). Dalam menentukan jenjang konkrit ke abstrak antara Edgar Dale dan Bruner pada diagram jika disejajarkan ada persamaannya, namun antara keduanya sebenarnya terdapat perbedaan konsep. Dale menekankan peserta sebagai pengamat kejadian sehingga menekankan stimulus yang dapat diamati, sedangkan Bruner menekankan pada proses operasi mental peserta pelatihan pada saat mengamati obyek.
Landasan teknologis. Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek perancangan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan penilaian proses dan sumber belajar. Jadi, teknologi pembelajaran merupakan proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol. Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan masalah dilakukan dalam bentuk kesatuan komponen sistem pembelajaran yang disusun dalam fungsi disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan serta dikombinasikan sehingga menjadi  sistem pembelajaran yang lengkap.
Landasan empiris. Terdapat interaksi antara penggunaan media penyuluhan pertanian dan karakteristik belajar pelaku utama dan pelaku usaha sebagai peserta penyuluhan dalam menentukan hasil belajarnya. Artinya, mereka akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya; bagi yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film, sedangkan yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah yang disampaikan oleh penyuluh pertanian. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media penyuluhan pertanian hendaknya jangan atas dasar kesukaan penyuluh pertanian itu sendiri, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik peserta, karakteristik materi, dan karakteristik media penyuluhan itu sendiri.

Penyuluh Pertanian dan Media Penyuluhan Pertanian

Perubahan global dalam perkembangan pengetahuan dan teknologi, terutama yang berhubungan dengan sistem pembelajaran di lembaga-lembaga penyuluhan pertanian menuntut adanya perubahan sikap dan paradigma dari para penyuluh pertanian dalam melaksanakan kegiatan penyuluhannya.
Dulu ada anggapan yang salah kaprah, yaitu bahwa penyuluh pertanian adalah orang atau sosok yang paling mengetahui, yang kemudian berkembang menjadi sosok lebih dulu mengetahui atau pengetahuan penyuluh pertanian hanya beda semalam dibandingkan dengan peserta penyuluhannya. Sekarang bukan saja pengetahuan penyuluh pertanian sama dengan peserta penyuluhannya, bahkan mereka dapat lebih dulu mengetahui daripada penyuluhnya itu sendiri, sebagai akibat perkembangan media informasi yang begitu cepat di sekitar lingkungan kita, sehingga pada saat ini penyuluh pertanian bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Banyak contoh, peserta penyuluhan dapat lebih dulu mendapat informasi dengan cara mengakses informasi dari media massa seperti : surat kabar, televisi, handphone (SMA/MMS/BBM), bahkan internet. Sedangkan seringkali penyuluh pertanian dengan alasan klasik “masalah ekonomi”, mereka tidak dapat mengakses informasi dengan cepat.
Bagaimana penyuluh pertanian menyikapi perkembangan ini? Setidaknya ada tiga kelompok penyuluh pertanian dalam menyikapi hal ini, seperti tidak peduli, menunggu petunjuk, atau cepat menyesuaikan diri.
Kelompok pertama; yaitu penyuluh pertanian yang tidak peduli. Seorang penyuluh pertanian yang mempunyai rasa percaya diri berlebihan (over confidence) barangkali akan berpegang kepada anggapan bahwa sampai kapanpun posisi penyuluh pertanian tidak akan tergantikan. Dalam setiap proses pembelajaran pada penyuluhan pertanian tetap diperlukan sentuhan manusiawi dari seorang penyuluh pertanian; sehingga dalam kelompok ini digambarkan peserta penyuluhan pertanian sebagai seseorang yang sifatnya tergantung, dan menganggap pengalaman mereka tidak besar nilainya.
Pengalaman yang sangat besar manfaatnya adalah pengalaman yang diperoleh dari penyuluh pertanian, sehingga tetap memerlukan sentuhan psikologis dari seorang penyuluh pertanian, yang dalam memberikan penyuluhan tidak hanya mengutamakan materi penyuluhannya saja, akan tetapi harus juga memperhatikan mereka (pelaku utama dan pelaku usaha) sebagai manusia yang harus dikembangkan potensi diri dan pribadinya, sehingga harus tetap dipelihara keseimbangan antara perkembangan intelektual dan perkembangan psikologis.
Teknologi secanggih komputer yang bagaimanapun, VCD/DVD, internet atau apapun, tidak dapat menggantikan manusia, karena bagaimanapun teknologi berkembang secara pesat, penyuluh pertanian tetap dianggap sebagai yang “harus digugu dan ditiru”. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa media penyuluhan pertanian tidak dapat menggantikan posisi penyuluh pertanian, namun sikap tidak peduli terhadap perkembangan pengetahuan dan teknologi, bukanlah sikap yang tepat. Bagaimanapun, lingkungan kita terus berkembang, tuntutan masyarakat terhadap kualitas penyuluh pertanian semakin meningkat, sehingga harus peduli.
Kelompok kedua; adalah penyuluh pertanian yang menunggu petunjuk, kelompok inilah yang paling banyak ditemukan di hampir semua lembaga-lembaga penyuluhan pertanian yang mungkin akibat dari kebijakan sistem penyuluhan pertanian selama ini. Penyuluh pertanian dianggap sebagai “tukang” dalam melaksanakan rencana kegiatan penyuluhannya yang demikian rinci dan kaku, sehingga tinggal melaksanakan tanpa boleh menyimpang dari pedoman baku yang telah ditentukan.
Kelompok ketiga; adalah penyuluh pertanian yang cepat menyesuaikan diri. Sejalan dengan perubahan kurikulum, otonomi dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian, serta manajemen lembaga penyuluhan pertanian berbasis kompetensi, bukan lagi saatnya bagi penyuluh pertanian untuk selalu menunggu petunjuk. Penyuluh pertanian adalah tenaga profesional, bukan amatir. Dengan mengacu kepada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Penyuluh Pertanian, maka setiap penyuluh pertanian dituntut untuk dapat mengembangkan materi penyuluhan pertanian bagi sasaran penyuluhan pertanian dalam suatu proses pelaksanaan penyuluhan yang berkesinambungan. Penyulu pertanian dituntut untuk mengembangkan kemampuan dan kompetensi petani binaannya, bukan sekedar pengetahuan tetapi para peserta penyuluhan hendaknya mampu berpikir (kognitif), mampu menentukan sikap (affektif) dan mampu bertindak (psikomotor), sehingga nantinya menjadi manusia yang bermartabat. Oleh karena itu saran yang tepat untuk penyuluh pertanian adalah cepat-cepatlah menyesuaikan diri, dan perlu segera mereposisi perannya saat ini, dan tidak lagi menjadi orang yang paling mengetahui di kelas, namun harus mampu menjadi fasilitator yang baik pada proses pembelajaran dalam kegiatan penyuluhan pertanian.

bersambung.....

Thursday, October 18, 2018

Emangnya Boleh....?

Pulang dari pengajian tadi siang, dalam perjalanan pulang ke rumah, seorang ayah bertanya pada anak lelakinya yang berusia 7 tahun..
Ayah : "Nak.., tadi dengar nggak ceramahnya pak ustadz....?"
Anak : "Dengar dong, yah...."
Ayah : "Sekarang ayah tanya....,  sebagai anak kamu harus berbakti pada siapa...?"
Anak : "Ibu...."
Ayah : "Oke... selanjutnya pada siapa....?"
Anak : "Ibu...."
Ayah : "Kemudian... pada siapa lagi...?"
Anak : "Ibu...."
Ayah : "Setelah itu....?"
Anak : "Ayah..."
Ayah : "Pinteeeer......, jadi ibunya ada berapa.....?"
Anak : Ada tiga..."
Ayah : "Bapaknya.....?"
Anak : "Satu..."
Ayah : "Berarti..... ibunya kurang berapa...?"
Anak : "Kurang dua, yah..."
Ayah : "Siiiip...., nanti sampai di rumah bilang sama ibu yaa...?"
Setelah sampai di rumah, si anak menghampiri ibunya dan berkata penuh semangat....
Anak : "Ibu...., tadi kata ayah seharusnya aku punya tiga orang ibu, karena waktu dengar ceramah.... kita harus berbakti tiga kali pada ibu...."
Ibu : "Terus.... apa maksudnya....?"
Anak : "Bu... aku kan cuma punya satu ibu... ayah mau ngasih ibu lagi untuk aku..."
Ibu : "Nak.... kamu ngerti ini sayur apa....?"
Anak : "Terong, buu..."
Ibu : "Bagaimana caranya supaya satu terong  ini bisa dimakan oleh tiga orang.....?"
Anak : "Dipotong jadi tiga, bu...."
Ibu : "Anak ibu memang pintar....., nanti kamu bilang sama ayahmu yaaa... biar ibu potong sampai habis sekalian....."

Friday, October 12, 2018

Multimedia Untuk Penyuluhan Pertanian Partisipatif


Oleh : Hamdan Malik
 
Pengertian

Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu: multimedia linier dan multimedia interaktif. Multimedia linier adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial (berurutan), contohnya televisi dan film. Multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Contoh multimedia interaktif adalah pembelajaran interaktif, aplikasi game, dan lain-lain.
Sedangkan pembelajaran diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Jadi dalam pembelajaran, yang utama adalah bagaimana peserta itu belajar. Belajar dalam pengertian aktivitas mental peserta dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat relatif konstan. Dengan demikian aspek yang menjadi penting dalam aktivitas belajar adalah lingkungan. Bagaimana lingkungan ini diciptakan dengan menata unsur-unsurnya sehingga dapat mengubah perilaku peserta. Dari uraian diatas, apabila kedua konsep tersebut kita gabungkan maka multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam proses pembelajran, dengan kata lain untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang pilihan, perasaan, perhatian dan kemauan peserta sehingga secara sengaja proses belajar itu terjadi, bertujuan dan terkendali.
Sebagai bagian dari proses pembelajaran, sudah saatnya seorang penyuluh pertanian lebih mengembangkan peran multimedia dalam kegiatan penyuluhan pertanian di wilayah kerjanya masing-masing, paling tidak, memulainya sebagai pengembangan kompetensi fungsionalnya dalam berinteraksi dengan pelaku utama dan pelaku usaha sebagai sasaran kegiatan penyuluhan yang dilakukannya, karena akan memberikan nuansa baru yang lebih segar, partisipatif, dan interaktif yang tentu saja lebih efektif dan menyenangkan. Bukankah prinsip dalam proses pembelajaran adalah “learning is most effective when its fun (belajar itu akan lebih efektif jika dilakukan dengan senang) ?” Sebuah tantangan untuk meningkatkan kompetensi, kapabilitas dan kapasitas penyuluh pertanian.

Manfaat Multimedia Dalam Penyuluhan Pertanian

Apabila multimedia pembelajaran dipilih, dikembangkan dan digunakan secara tepat dan baik, akan memberi manfaat yang sangat besar bagi para penyuluh pertanian sebagai fasilitator dan pelaku utama serta pelaku usaha sebagai peserta penyuluhan pertanian. Secara umum manfaat yang dapat diperoleh adalah proses pembelajaran dalam penyuluhan lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar petani dapat ditingkatkan dan proses ini dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, serta sikap belajar peserta dapat ditingkatkan. Manfaat diatas akan diperoleh mengingat terdapat keunggulan dari sebuah multimedia, yaitu: (a) memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata, seperti kuman, bakteri, elektron dan lain-lain; (b) memperkecil benda yang sangat besar yang tidak mungkin dihadirkan di ruangan, seperti gajah, rumah, gunung, dan lain-lain; (c) menyajikan benda atau peristiwa yang kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau lambat, seperti sistem tubuh manusia, bekerjanya suatu mesin, beredarnya planet Mars, berkembangnya bunga dan lain-lain; (d) menyajikan benda atau peristiwa yang jauh, seperti bulan, bintang, salju, dan lain-lain; (e) menyajikan benda atau peristiwa yang berbahaya, seperti letusan gunung berapi, harimau, racun, dan lain-lain; dan (f) meningkatkan daya tarik dan perhatian peserta pelatihan.

Karakteristik Media Dalam Multimedia Untuk Penyuluhan Pertanian

Sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran, pemilihan dan penggunaan multimedia harus memperhatikan karakteristik komponen lain, seperti tujuan, materi, strategi dan juga evaluasi. Karakteristik multimedia pembelajaran antara lain adalah: (a) memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur audio dan visual; (b) bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk mengakomodasi respon pengguna; dan (c) bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna bisa menggunakan tanpa bimbingan orang lain.
Selain memenuhi ketiga karakteristik tersebut, multimedia penyuluhan pertanian sebaiknya juga memenuhi fungsi: (a) mampu memperkuat respon pengguna secepatnya dan sesering mungkin; (b) mampu memberikan kesempatan kepada petani untuk mengontrol laju kecepatan belajarnya sendiri; (c) memperhatikan bahwa peserta penyuluhan pertanian mengikuti suatu urutan yang koheren dan terkendalikan; dan (d) mampu memberikan kesempatan adanya partisipasi dari pengguna dalam bentuk respon, baik berupa jawaban, pemilihan, keputusan, percobaan dan lain-lain.

Dampak Multimedia Untuk Penyuluhan Pertanian Yang Interaktif

Tidak dapat disangkal bahwa terpaan teknologi berupa perangkat lunak (software) maupun perangkat keras (hardware) sudah semakin menyatu dengan kehidupan manusia modern. Dalam kegiatan penyuluhan pertanian misalnya, kehadiran media sudah dirasakan banyak membantu tugas penyuluh pertanian sebagai fasilitator dalam mencapai tujuan pembelajarannya. Dalam era teknologi dan informasi ini, pemanfaatan kecanggihan teknologi untuk kepentingan pembelajaran sudah bukan merupakan hal yang baru lagi. Salah satu media pembelajaran baru yang akhir-akhir ini semakin menggeserkan peranan penyuluh pertanian adalah teknologi multimedia yang tersedia melalui perangkat komputer.
Dengan teknologi ini, kita bisa belajar apa saja, kapan saja dan di mana saja. Di Indonesia, meskipun teknologi ini belum digunakan secara luas namun cepat atau lambat teknologi ini akan diserap juga ke dalam sistem pembelajaran di penyuluhan pertanian. Dalam tulisan ini akan dikemukakan beberapa persoalan yang muncul sebagai akibat dari diterapkannya teknologi ini dalam ranah penyuluhan pertanian.
Pertama, berkaitan dengan orientasi filosofis. Ada dua masalah orientasi filosofis yang muncul akibat penerapan teknologi multimedia ini yakni masalah yang berasal dari pandangan kaum objektivis dan yang berasal dari pandangan kaum konstruktivis. Kaum objektivis menilai desain multimedia sebagai sesuatu yang sangat riil yang dapat membantu proses pembelajaran (termasuk penyuluhan pertanian) peserta menuju kepada tujuan yang diharapkan (Jonassen, 1991). Materi yang berwujud pengetahuan atau ketrampilan yang hendak dicapai oleh peserta harus dirancang secara jadi oleh para pengembang instruksional dan dikemas dalam teknologi multimedia ini. Sebaliknya kaum konstruktivis berpendapat bahwa pengetahuan hendaklah dibentuk oleh peserta sendiri berdasarkan penafsirannya terhadap pengalaman dan gejala hidup yang dialami (Merril, 1991). Belajar adalah suatu interpretasi personal terhadap pengalaman dan kenyataan hidup yang dialami. Berdasarkan pandangan ini maka belajar bersifat aktif, kolaboratif dan terkondisi dalam konteks dunia yang riil.
Kedua, berhubungan dengan lingkungan belajar. Lingkungan belajar multimedia interaktif dapat dikategorikan dalam tiga jenis yakni lingkungan belajar preskriptif, demokratis dan sibernetik (Schwier, 1993). Masing-masing lingkungan belajar memiliki orientasi dan kekhasan sendiri-sendiri. Lingkungan preskriptif menekankan bahwa prestasi belajar merupakan pencapaian dari tujuan belajar yang ditetapkan secara eksternal. Interaksi belajar terjadi antara peserta dengan bahan-bahan belajar yang sudah tersedia dan belajar merupakan suatu kegiatan yang bersifat prosedural. Lingkungan belajar demokratis menekankan kontrol proaktif peserta atas proses belajarnya sendiri, yang mencakup penetapan tujuan belajar sendiri, kontrol peserta terhadap urutan-urutan pembelajaran, hakekat pengalaman dan kedalaman materi belajar yang dicarinya. Sedangkan lingkungan belajar sibernetik menekankan saling ketergantungan antara sistem belajar dan peserta.
Ketiga, berhubungan dengan desain instruksional. Pada umumnya, desain pembelajaran pada suatu multimedia dibuat berdasarkan besar kecilnya pengendalian dari peserta itu sendiri atas pembelajarannya. Sebagian besar peneliti mengatakan bahwa peserta bisa diberdayakan melalui kontrol yang lebih besar atas belajarnya tetapi peserta bisa juga dihambat melalui kontrol atas belajarnya. Dalam lingkungan yang demokratis dan sibernetik, kegiatan pembelajaran multimedia bervariasi dan tersedia untuk peserta pada saat kapan saja dan dalam berbagai bentuk sehingga bisa memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang ditetapkannya sendiri. Dalam lingkungan belajar preskriptif, kontrol eksternal nampaknya dipaksakan selama tahap awal belajar dan semakin berkurang ketika sudah terlihat kemajuan yang berarti dalam diri peserta berupa perubahan perilaku ke arah yang diharapkan.
Keempat, berkaitan dengan umpan balik. Sifat dari umpan balik dalam pembelajaran menggunakan multimedia sangat bervariasi tergantung pada lingkungan dimana multimedia itu digunakan. Dalam lingkungan belajar preskriptif, umpan balik sering mengambil bentuk koreksi dan deteksi terhadap kesalahan yang dibuat. Dalam lingkungan belajar yang demokratis, umpan balik sering mengambil bentuk nasehat atau anjuran, yakni sekedar pemberitahuan kepada peserta tentang akibat-akibat yang muncul dari suatu pilihan tertentu atau juga berisi rekomendasi. Dalam lingkungan belajar sibernetik, umpan balik merupakan suatu negosiasi atau perundingan. Peserta menetapkan arah atau petunjuk sendiri dan membuat pilihannya sendiri dan sistem belajar akan berusaha mempelajari pola-pola yang muncul sehubungan dengan kebutuhannya itu dan memberikan respon terhadap peserta dengan menyediakan tantangan-tantangan baru.
Kelima, sifat sosial dari jenis pembelajaran ini. Banyak kritik telah dilontarkan terhadap pembelajaran menggunakan multimedia sebagai pembelajaran yang bersifat isolatif sehingga bertentangan dengan tujuan sosial dari institusi pendidikan, pelatihan, maupun penyuluhan. Peserta seolah-olah dikondisikan untuk menjadi individualis-individualis dan kontak sosial dengan teman-teman menjadi sesuatu yang asing. Itulah beberapa masalah yang perlu diantisipasi bila suatu saat nanti diputuskan untuk menggunakan tekonologi multimedia dalam kegiatan pembelajarannya. Apapun teknologi yang akan dipergunakan hendaknya memperhatikan aspek-aspek pencapaian tujuan yang lebih luas seperti aspek psikologis, sosial, moral, di samping aspek kognitif-intelektualnya.
Salah satu usaha yang dikembangkan untuk mengantisipasi sejumlah potensi masalah diatas maka akhir-akhir ini perhatian kita semua mulai diarahkan kepada belajar kooperatif dalam pembelajaran menggunakan multimedia (Klien & Pridemore, 1992). Hooper (1992) memperluas pendekatan belajar kooperatif ini dalam lingkungan belajar yang berbasis komputer.
Ia mengemukakan beberapa keuntungan dan penerapan belajar kooperatif dalam pembelajaran menggunakan multimedia antara lain (1) Adanya ketergantungan dan tanggung jawab dari setiap anggota kelompok; (2) Adanya interaksi yang promotif di mana usaha seorang individu akan mendukung usaha anggota kelompok lainnya; (3) Kesempatan latihan untuk bekerjasama; dan (4) Pengembangan dan pemeliharaan kelompok. Proses kelompok yang terjadi di dalam lingkungan belajar ini bisa mendorong anggota kelompok untuk merefleksikan efektif atau tidaknya strategi yang digunakan.

Peningkatan Kualitas Pembelajaran Dalam Kegiatan Penyuluhan Pertanian

Perbaikan kualitas pelatihan diarahkan pada peningkatan kualitas proses pembelajaran, pengadaan bahan/materi penyuluhan, dan buku bacaan atau buku referensi, serta alat-alat bantu (media) yang digunakan dalam proses pembelajaran. Peningkatan kualitas proses pembelajaran dilakukan melalui in-service extension, penyuluh pertanian sebagai fasilitator yang sasarannya adalah meningkatkan penguasaan landasan penyuluhan pertanian, materi penyuluhan pertanian (subject matter), metode dan teknik penyuluhan penyuluhan, pembuatan dan penggunaan media dan alat bantu penyuluhan pertanian, serta evaluasi penyuluhan pertanian.
Penyuluh pertanian sebagai fasilitator memegang peran penting dan strategis dalam proses pembelajaran ini. Proses pembelajaran dalam penyuluhan pertanian adalah sebagai suatu aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap pelaku utama dan pelaku usaha berkaitan langsung dengan aktivitas usahataninya, sehingga sebagai suatu sistem kegiatan, proses penyuluhan pertanian akan selalu melibatkan penyuluh pertanian. Keterlibatan penyuluh pertanian tersebut mulai dari pemilihan dan pengurutan materi penyuluhan pertanian, penerapan dan penggunaan metode dan teknik penyuluhan pertanian, penyampaian materi penyuluhan pertanian, pembimbingan, sampai pada kegiatan pengevaluasian hasil penyuluhan pertanian.
Berkaitan dengan peran tersebut, suatu proses penyuluhan pertanian akan berlangsung secara baik jika dilaksanakan oleh penyuluh pertanian yang memiliki kualitas kompetensi akademik dan profesional yang tinggi atau memadai. Oleh karena itu, peningkatan kualitas penyuluhan pertanian diupayakan melalui pengutamaan peningkatan kualitas penyuluh pertaniannya. Selengkap dan secanggih apa pun prasarana dan sarana penyuluhan pertanian, tanpa didukung oleh kualitas penyuluh pertanian yang baik, prasarana dan sarana tersebut tidak memiliki arti yang signifikan terhadap peningkatan mutu penyuluhan pertanian.